Musik Ciptaan Tuhan ?
Mari coba sedikit untuk melirik segala sesuatu baik mulai dari segala bentuk, agar bisa melihat sesuatu itu mendekati maksimal karena pandagan hanya pada satu arah saja tidak akan cukup untuk menyapai kesimpulan yang fear, kenapa seperti itu karena ini di sebabkan sudut pandang yang hanya mewakili satu arah saja tidak akan cukup untuk menguniversalitaskan setiap dari berbagai macam kategori-kategori dari sesuatu apapun itu. Kita coba ambil contoh dari beberapa kasus sehari hari yang seringkali terjadi pada setiap orang didalam aktivitasnya yaitu ketika seseorang tersebut berbuat apa yang akan dia inginkan baik itu dari segi pelajaran, seni, music, olahraga, atau kesukaanya lain sebagainya ini yang termasuk dalam pengembangkan diri.

Minat dan bakat apapun yang di miliki seseorang akan pasti akan berguna juga kepada setiap orang baik di sekitarnya maupun dimanapun mereka yang menyukainya karena ketika rasa suka itu muncul pada diri seseorang maka akan ada impian yang tertanam pada diri seseorang tersebut untuk meraihnya walaupun harus melalui proses yang begitu rumit, tetapi dengan dorongan faktor rasa keinginan semua rumit tidak akan terasa susah, walaupun orang-orang melihatnya begitu rumit yang sedang kita lakukan maupun sedang kita kerjakan itu.

Berikut setelah kita sudah berhasil menjalankan ataupun mengerjakan sesuatu dengan baik maka itu semua akan bernilai, dan sesuatu yang mempunyai nilai itu tidak hanya dalam satu bidang saja akan tetapi begitu banyak sesuatu yang sangat bernilai ketika hal itu digeluti dengan baik dan perfect, sebagai contoh kasus di kehidupan kita bahwa ada saja orang yang menilai seseorang atau tiap personal yang dia kenal itu sedang bertingkah bodoh dalam hal sesuatu itu yang belum maksimal mereka lakukan, padahal sebab dari ketidaktahuan maupun mengerjakan sesuatu belum cukup maksimal itu merupakan sebab dari ketidakbiasaaan seseorang maka apa yang sedang dikerjakan tersebut belum akan bersifat pasti juga dan maksimal, akan tetapi kenapa kita tidak bisa bolak balikan pandangan ini dengan memandang diri kita sendiri seperti halnya kita sedang bercermin dengan melihat diri kita sendiri yang ada di cermin itu?

Disinilah letak kelemahan yang kita miliki ini yang lagi sedang melihat kelemahan lainya sehingga seseorang tersebut hanya meninterprestasikan kelemahan yang lainya itu masih bersifat hipotesa itu. Seperti hal kongkritnya yaitu kita lihat dalam berkehidupan di sekolah, kampus, maupun para guru dan dosen, tidak terpikirkah kepada kita bahwa mereka ini hanya menguasai beberapa bidang ilmu saja dan tidak semua bidang ilmu di sekolah maupun di universitas dan lain sebagainya mereka akan kuasai secara parsial, maka sebuah kepintaran dan kecerdasan seseorang itu ada pada apa yang dia minati maupun disukai baik dari segi bidang apapun, malingpun bisa kita sebut cerdas dan pintar walaupun hal tersebut dia lakukan negatif, karena ini sudah bidangya mereka, dan maling itu tidak hanya kita konotasikan pada mereka yang mencuri ayam ternak, buah, atau sandal, tetapi ada juga maling kelas elite yang artinya mereka maling yang tercerdaskan dan mempunyai ilmu normatif yang tidak digunakan dengan bijak tetapi hanya ingin memikirkan kebutuhan sendiri sehingga merugikan banyak pihak lain, merekapun sampai-sampai bisa mengambil uang beratus ratus juta bahkan lebih dikarenakan pembiasan ilmu pengetahuan sudah digunakan untuk membentengi tembok pertahanan kelompok maling yang tercerdaskan ini yang sudah duduk di kursi mewah dalam pemerintahan.

Kalau maling pintar dan cerdas dengan caranya, maka harusnya yang lain-lain pula sama halnya seperti itu, walaupun tidak hanya pada satu bidang ilmu saja seperti matematika, karena persepsi umum selalu mengatakan bahwa seseorang itu tidaklah pintar ketika dia tidak dapat menguasai matematika, kalau begini jadinya maka mereka seperti Ludwig van Beethoven seorang komposer kita tidak bisa menyebut mereka pintar? Dan kalau kita akan menyebut mereka pintar  maka sebutanya yang akan terdengar dari mulut si penyebut yaitu seorang Ludwig van Beethoven sangat pintar bermusik saja, artinya sebutan tersebut berkategori (pintar bermusik).
Ludwig van Beethoven
"Memainkan not yang salah bukanlah hal yang fatal. Bermain tanpa hasrat, itu baru tak termaafkan"
Sangat heranya kenapa hanya hitung menghitung disebut dengan kepintaran dan cerdas, Ludwig van Beethoven kadang tidak ingin di sebut bodoh karena tidak bisa seperti mereka yang pintar dan genius dalam bidang matematika, dan ini adalah hasil dari satu maupun dua pandangan saja yang tidak komprehensif, tradisi mengpresepsikan sesuatu itu hanya pada beberapa sudut pandang saja  adalah dalam konteks kerasisan dalam bidang ilmu pengetahuan maupun minat dan bakat seseorang.
Setelah berusia tua, Socrates belajar musik. Lalu ada orang berkata padanya, "Apakah engkau tidak malu belajar di usia tua?". Dia menjawab, "Aku merasa lebih malu menjadi orang yang bodoh di usia tua."
Ternyata masih banyak bidang-bidang ilmu lainya sudah terzolimi oleh beberapa bidang yang mengatas namakan kepintaran itu, sedangkan dia sendiri masih hipotesa untuk disebutkan kepintaran, didalam dunia kita tinggal ini tidak hanya membutuhkan satu bidang ilmu saja akan tetapi semua akan saling berimplikasi maka tidak boleh menegasikan maupun mendikte sesuatu lainya hanya untuk egoisitas personal, karena tuhan menciptakan materi itu semua ada hikmanya tidak hanya semata mata diciptakan untuk mengurus satu hal saja, mari buka seluas luasnya pola berfikir yang dinamis dan tidak terpenjarakan oleh dogmatis ilmu pengetahuan khusus saja agar tidak mengiring kita kepada sesuatu yang sangat statis, juga jangan sepelekan bentuk apapun itu yang masih bersifat praduga karena tuhan yang mengadakan semua materi di dunia ini telah diberikan untuk di gunakan sebaik baiknya dan positif sudah pastinya supaya akan merubah tatanan berkehidupan yang mendekati sempurna.
Nietzsche
"Tanpa musik hidup menjadi sebuah kesalahan"

Komentar

Postingan populer dari blog ini