Ketertundaan Kepastian


Teori demi teori kini sudah banyak bercampur dengan satu teori ke teori berikutnya hingga seterusnya, semua hanyalah dari pengulangan yang ditirukan untuk mendapatkan kerangka baru hingga gaya konseptual yang relevan dengan jaman, tetapi ada juga suatu teori yang hari ini tetap relevan atau tidak perna pudar hingga degradasi, karena mempunyai dasar kuat dan kokoh yang belum dimiliki sebelumnya, akan tetapi karena semua ini berasal dari pengulangan sehingga tidaklah diketahui siapa pemulai yang merumuskan sebuah teori hingga konsep utuh. Yang patut diketahui adalah semua teori dan kerangka yang sudah di bangun kokoh itu hanyala gabungan dari tiap tiap teori yang nanti akan disatupadukan hingga pematenan. 

Yang kita anggap sekarang valid dan relevan hanyala sementara atau bisa dikatakan mempunyai umur yang nantinya juga akan tergantikan dengan yang baru, teori yang kita anggap benar ternyata itu bukanlah kebenaran sesungguhnya hakiki dan mutlak, jika dia mutlak maka itu sudah pasti sebuah doktrin serta dogma yang tidak boleh diperbantahkan, sedangkan sesuatu yang bisa dibantah itu sudah pasti melibatkan sebuah rasio dan akal, semua berurusan dengan akal pasti sifatnya masih bisa di bantah bahkan di robohkan kebenaranya yang sementara itu. 

Memang sering kali kita mendengar bahwasanya kebenaran itu relative, jika dia relative maka dia bukan kebenaran, karena namanya yang benar itu sudah pasti benar sebenar benarnya benar. Yang mungkin untuk mengungkapkan sebuah kebenaran maka tidaklah gampang mencari susunan kata hingga grammar yang bisa mewakilinya. Semua yang keluar dari mulut seseorang hanya sebuah rangsangan saraf otak yang telah dihasilkan oleh tangkapan indra manusia melalui pengalaman yang di ekspresikan dalam bentuk frekuensi getaran suara. 

Terus munculah pertanyaan yang benar itu seperti apa? Apakah semua ini relative yang bersifat sementara, kalapun ada yang mengatakan sesuatu itu benar, maka itu bukan benar sebenar benarnya benar, akan tetapi itu hanyalah klaim kebenaran yang bersifat sementara saja. Jika tak ada kebenaran didunia ini justru untuk apa mereka mencari kebenaran, malah yang ada mereka dapatkan kebenaran versi masing masing meraka yang mengakibatkan saling klaim mana yang paling valid sah hingga independent, mutlak. adapun kebenaran bersifat subjektif dan objektif selama ini telah menjadi sebuah kebiasaan yang sangat dualitas, padahal segala sesuatu sangatlah mungkin tidak hanya melulu tentang dualitas saja, tetapi ada sesuatu non-dual yang sedang bekerja disaat kapanpun dan dimanapun hingga sepermili detik waktu yang tidak bisa kita tentukan bagaimana mekanisme non-dual ini berjalan secara hukum hukumnya. 

Dan juga selama ini masih ada yang mempermainkan kata mutlak hanyalah ingin mengakhiri perdebatan kebenaran demi perdebatan dan akhirnya ada yang di untungkan didalam perdebatan tersebut. Akhirnya mencari kebenaran seperti halnya kita berjalan di tengah hutan rimba yang lebat untuk mempertahankan diri dari berbagai serangan binatang buas yang tak terduga ataupun kejamnya alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini