REFLEKSIFITAS


Kalau kita melihat negeri ini dan bangsa kita ini apakah yang langsung terpikirkan dan apa yang menjadi kita sampai memikirkan hal tersebut, bukankah tidak mungkin ketika melihat sesuatu itu akan menimbulkan perspektif sendiri kekitanya ataukah ada interprestasi yang akan ditimbulkan di benak masing-masing individu.

Pada dasarnya negara-negara yang sudah lumayan lama berdirinya atau terlepas dari jajahan para kolonialisme itu menyatakan merdeka, dan merdeka kalau kita artikan seperti tidak terikat, tidak bergantung kepada pihak manapun.

Sekarang melihat kondisi negara kita Indonesia pada saat ini masih belum bisa dikatakan merdeka dalam hal-hal seperti memberantas kelaparan, kekurangan pangan, sandang, papan, hingga hal-hal rumit lain sebagainya. Orang-orang di negara kita sudah bisa dibilang cukup puas menikmati visi misi yang sampai sekarang belum sama sekali terasa realitas secara signifikan yang terkandung didalam visi misi tersebut.

Padahal itu adalah janji-janji yang mereka sodorkan kepada umat untuk merubah tatanan yang lebih baik dari sebelumya dan sebagai salah satu bentuk agar orang-orang mendungkungya, dan orang-orang yang akan mendukungya menginginkan janji tersebut karena mereka membutuhkanya untuk nanti merubah tatanan kehidupan mereka nanti.
Akan tetapi wewenang dan kekuasaan yang sudah di tangan penguasa tersebut hanyalah berupa simbol tetapi secara aplikatif belum teruraikan secara eksplisit.

Penganalogiannya seperti pemimpin/penguasa adalah pilotnya dan penumpang pesawat adalah masyarakat, si penumpang naik pesawat dengan tujuan pergi ke prancis ketika pesawat sudah berjalan dan terbang, disini penumpangya sudah tidak bisa lagi intervensi si pilotnya karena penumpang disini sudah tidak boleh berinteraksi dengan pilot dengan alasan sudah ada prosedurnya, “pemimpin tidak demokrasi dan selalu menutup kupingya” maka dari itu si penumpang ini yang kita analogikan sebagai masyarakat tinggal menerima hasilnya nanti entah nanti pesawat tibahnya di amerika atau di jerman itu terggantung pilot dan atcnya yang mengendalikan.

Karena disini tujuan sudah jelas dari awal maka pesawat juga berjalan menuju ke prancis bukan ke negara lainya, dengan analogi seperti ini kalau pemimpin yang tugasnya tidak sesuai dengan visi ataupun misinya dan tidak sesuai pengimplementasikannya bias  maka jangan heran pemimpin beserta jajaranya membawa kita bukan ketempat tujuan sebenarnya.

Sakit hati? Ya jelas sakit hati, namanya juga manusia siapa yang bisa lari dari sakit hati kalau kelakuan kekitanya bisa seperti itu. Dan kerugianpun sangat besar dengan peristiwa seperti itu. Terus pembenahanya mau seperti apa? Kalau jalan keluarnya adalah menggantikan sosok pemimpin itu maka balik lagi ke proses awal yaitu memilih lagi sosok yang baru yang akan menjadi pemimpin pengganti. Terus apakah pemimpin yang baru nanti ketika terpilih akan bisa lebih baik, atau malah lebih parah, kan relative juga bisa iya, bisa tidak.

Nah bagaimanakah agar pemimpin yang akan terpilih akan lebih baik alias tidak mengulangi kesalahan sebelumya. Tentu jawabanya bukan ada pada masyarakat tapi pada sosok pemimpin itu karena dengan rasa hormat, kepercayaan, sungguh-sungguh masyarakat untuk memilih sosok yang mereka pilih nanti sebagai tanggung jawab yang besar terhadap umat manusia yang akan dimerdekakan oleh para pemimpin yang akan memimpin masyarakat, dan haruslah benar-benar dan bersungguh-sungguh menjalaninya dan bukan karena kepentingan-kepentingan yang merusak tata nilai kehidupan sehingga akan melahirkan juga peradaban yang buruk.

untuk itu siapapun dia akan menjadi pemimpin maka haruslah sadar dari diri sendiri karena pemimpinlah yang mendesain sedemikian rupa objek-objek dan sesuaikan pengejawantahkanya sebagai mana mestinya yang harus dikerjakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini