Belengguan Modernisasi
Sembari menjalankan aktivitas
keseharian ada-ada saja berbagai macam warna-warna sanjungan kehidupan yang
selalu melekat di berbagai aspek-aspek peranan hidup sehingga faktornyapun,
selalu di tantang yang sudah tidak terhimpunkan kedalam kongklusi yang terejawantahkan
kedalam suatu peristiwa tersebut.
Moderenisasi selalu saja memberi
asupan-asupan nutrisi, pengetahuan, materialisme yang berkecukupan, bahkan sampai melebihi kapasitas yang dibutuhkan dan
sudah terealisasikan pada saat masuk abad
kejayaanya, hal inipun tidak bisa kita pungkiri karena berbicara terkait adanya
hukum kausalitas yang menggepung setiap materialisme.
Ini selalu berurusan dengan paham
rasionalisme, dengan di kawal oleh penalaran akal dan logika maupun kekristisan yang di anggapnya suatu
alasan untuk membedah hal tersebut, seperti penganalogianya pada ilmu
pengetahuan matematik yaitu 1+1= 2 sehingga rumus (perkawinan) penyelesaian ini
hanya bisa di monitori oleh logika dan akal maupun pengetahuan matematik yang
sudah diajarkan di bangku sekolah selama ini kita pakai untuk memecahkannya.
Studi kasus seperti ini selalu dieksekusikan ke penalaran yang masih tersentuh kedalam ranah materialistis maupun akal dan logika berpikir.
Studi kasus seperti ini selalu dieksekusikan ke penalaran yang masih tersentuh kedalam ranah materialistis maupun akal dan logika berpikir.
Tidak bisa melepaskan juga untuk
berkehidupan di era serba moderen ini, apalagi sekarang dengan dihadirkan
kecanggihan teknologi kontemporer, maka tidak ada lagi alasan untuk
ketertinggalan alat-alat yang serba canggi, karena dengan itu manusia bisa
terbantuhkan aktivitas keseharianya.
Akan tetapi dengan kehadiran teknologi yang sangat canggi itu, maka parameternyapun tidak selalu terkontrol dengan efisien dan efektifitas.
Akan tetapi dengan kehadiran teknologi yang sangat canggi itu, maka parameternyapun tidak selalu terkontrol dengan efisien dan efektifitas.
Terus, alasan agar tidak adanya
kesalahan mekanisme atau prakteknyapun berkecimpung, yang bisa saja akan excessive dalam
berkehidupan di jaman era teknologi ini.
Untuk penyederhananya ini tidak lagi tersesuaikan dalam proses pengimplementasianya, kalaupun masih saja terjerumus kedalam lingkaran-lingkaran excessive seperti itu, apakah inilah bisa di namakan manusia sudah terkerumuni meterialistis negatif.
Untuk penyederhananya ini tidak lagi tersesuaikan dalam proses pengimplementasianya, kalaupun masih saja terjerumus kedalam lingkaran-lingkaran excessive seperti itu, apakah inilah bisa di namakan manusia sudah terkerumuni meterialistis negatif.
Padahal di keadaan sadar ataupun
prasadar manusia seperti itu telah terbelenggukan oleh manuversitas materialistis yang mengiring manusia kedalam bernilaian negatif yang tidak akan membawa manusia keefektifan dan
keefesiensi hidup.
Hal seperti ini perlu diketahui
kalangan masyarakat modern sekarang, karena pada hakikatnya manusia ialah
mahluk sosial yang langsung bersentuhan langsung dengan realitas disekitarnya,
maka dengan adanya moderenisasi di era yang sangat canggi ini, apakah masih
adakah kesesuaian kebutuhan-kebutuhan sosiologis dan biologis yang bersinergi
dengan teknologi itupun.
Kehidupan jaman old (dahulu)
dengan kehidupan jaman now (sekarang) sudah sangat jauh berbedah, dilihat dari
segi keseharian saja sudah sangat berbedah dari yang terdahulu.
Lalu apakah yang menjadi antitesis yang secara sosiologis dan biologis dan lain sebagainya, akan di seragamkan disinergisitaskan pada era yang serba kontemporer materialistis modern ini ?
Lalu apakah yang menjadi antitesis yang secara sosiologis dan biologis dan lain sebagainya, akan di seragamkan disinergisitaskan pada era yang serba kontemporer materialistis modern ini ?
adakah bisa menjadi sebuah daya tolak ukur bagi setiap manusia yang sangat termanuver oleh material secara sugesifitas itu. bantahan sudah pasti ada kalau mereka merasa tidak termanuver oleh setiap yang sifatnya materialistis itu, karena sifat dasar manusia selalu melawan kalau di interupsi secara tiba-tiba ataupun secara halus, substansinya disini yaitu mengganggu kenikmatan sedang di gelutinya.
sikap dewasa seperti apakah yang akan di pakai kalau sikap dewasa itu sendiri belum terdefinisikan kedalam dirinya secara realitas serta empiris. baiknya dengan koreksi dan reduksi ini bisa menjadi suatu kotemplasi bagi setiap individu-individu jaman now ini.

Komentar
Posting Komentar