Epistemologi?
Sejak
kapan kita tahu tentang kata tahu itu?
Manusia di hadirkan dalam hidup ini tidak semata-mata di sulap dengan
membacakan mantra mutlak oleh siapapun itu, kecuali sebab transenden yang masih
menjadi premis proposisi dalam subjektifikasi pada individu kita pada saat ini.
Tidak bisa dipungkiri sampai pada abad ke 21 ini manusia semakin hari semakin
banyak melewati jembatan penyebrangan realitas objektif pada kehidupan
keseharian manusia.
Apakah
sejak manusia masuk pertama kali ke alam ideanya ia sudah bisa bercakap ria
dengan dirinya pribadi? Tentu ini semakin menjadi pertanyaan bagi manusia,
kenapa didalam aku masih ada aku yang lainya? Apakah tuhan memasukan lebih dari
1 roh kedalam diriku sehingga aku bisa
berdialog dengan aku lainya, yang menjadi kesepakatan hakiki pada saat ini
bahwa hal ini pegaruh alam idea kata lain juga berkontemplasi.
Idea
memang begitu ramai kita jumpai dalam diri masing-masing tiap individu sebelum
ia membentuk suatu konsepsi menuju ke realitas objektif eksternal “Berkorespondensi”.
Pertanyaan selanjutnya bagaimana kita bisa mandiri dalam artian bukan sekedar
mandiri berorientasi pada fisik semata seperti halnya kita mengerjakan tugas
membersikan tempat tidur sendiri, gosok gigi sendiri, mandi sendiri, dan masih
banyak yang lain sebagainya.
Untuk
itu pengertian tentang suatu term mandiri harus lebih luas lagi tafsiranya,
tidak hanya pada satu makna yang kokoh yang telah memondasikan benak kita
selama ini dan bekuh. Kepunyaan primer apa yang bisa diandalkan dalam diri
manusia sebenarnya, apakah hanya dengan otot saja sudah cukup? Ini sama halnya
sapi kalau begitu yang hanya dengan satu perintah cambuk lalu ia bergerak
sesuai perintah.
Dan
kenapa binatang begitu turut dengan perintah afirmasi, karena ia hanya
menggunakan turut reaksi inderanya pada saat itupula, disinilah hukum
kausalitasnya pada bintang sebagai salah satu contoh. Terus pada manusia itu
bawaan yang lahiriyanya apa saja yang manusia modalkan hingga akhir hayatnya
nanti? Kita ketahui manusia ketika ia dilahirkan di bumi tuhan sudah memberikan
modal utama pada dirinya masing-masing.
Dan Allah
mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia
memberi kamu pendengaran penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur. (Qs Al-Nahl [16]:78).
Proposisi
tafsiranya kalau surah ini mengatakan kepada manusia bahwa ia sudah dilahirkan
mengantongi pemberian ini sebagai dasaria untuk ia belajar mengetahui alam
objektif eksternal sebagai ladang pengetahuan baginya untuk mengetahui
tanda-tanda kebesaranNya. Selain itu juga manusia sudah diberikan akal budi,
pikiran, dan jiwa yang suci.
Apakah
semua pemberian ini hanya di bekuhkan saja dan tidak binah setajam mungkin
sampai bisa setajam pedang Nabi Muhammad SAW ketika di tebaskan kepada musuh
laknat langsung terpotong-potong. Mengasah ketajaman pemikiran, akal, dan
membinah jiwa menuju ke hal yang positif dan berguna bagi sesama umat manusia yang
rahmatan lil alamin di muka bumi
sudah termasuk kewajiban manusia sebagai Khalifa (Pemimpin) di alam raya ini.
Bila
kita jauh meneropong kebelakang seperti perkataan orang terdahulu yaitu (Imam
Syafi’i) “Bila kau tak tahan penatnya
belajar, Maka kau akan menanggung perihnya kebodohan” begitu penatnya belajar mencari
pengetahuan itu pasti akan selalu bermanfaat pada diri kita, seberapa persen
dampak perubahanya juga pasti akan bertahap-tahap seperti angka satu menuju ke
angka dua dan seterusnya sampai berapapun itu.
Karena
manusia terkepung oleh hukum alam maka kausalitas selalu berlaku dimanapun,
kausalitas tak hanya yang objek tapi juga yang subjek dan terdapat juga pada
internal organikpun sekaligus individu setiap manusia baik akal itu serta
pikiran dan intuisi, indra, naluria. pengetahuan juga didapatkan melalui antara
kesesuaian realitas pemikiran. ilmu jelas berbeda dengan pengetahuan yaitu ilmu
yang tersingkapnya suatu kenyataan kedalam jiwa hingga tidak ada keraguan
terhadapnya.
Kita
harus bisa membedakan yang mana ilmu dan yang mana namanya pengetahuan, hal ini
perlu diketahui agar tidak menjadi kedangkalan seperti analognya permen manisku
yang tertukar dengan permenya yang rasa keasinan. Ilmu masih disangka
pengetahuan dan pengetahuan masih disangka ilmu maka disini mereka berdua telah
mengalami ketertukaran definisi dan differensialnya tidak terobservasi.
Dalam
konteks pengetahuan tidak hanya didapatkan melalui dengan berpikir saja, panca
indrapun ialah salah satu epistemologi bagi diri kita masing-masing yang dimana
ketika kita telah kehilangan satu indra maka akan juga kehilangan satu
pengetahuan. Kita coba melihat orang tuna netra yang sudah tidak bisa
menggunakan salah satu dari indra dalam dirinya maka seorang tersebutpun akan
mengalami kekurangan pengetahuan melaui indra matanya, kalau orang itu akan
kehilangan satu lagi indranya sebagai contoh pendengaran maka orang itu tidak
bisa mendapatkan pengetahuan baik ilmu melaui sarana indra tersebut.
“Sumber
segala pengetahuan tersembunyi dalam persepsi melalui oragan-organ indrawi
tubuh manusia dari dunia objektif yang mengitari kita” (RausyanFikr). Manusia auto
turut pada kodratnya yang sudah di berikan sejak sudah hadir kedunia, dunia
penuh sebab akibat dan akibat kesebab ataupun sebab ke sebab lainya.
Kepungan-kepungan ini tidak bisa dihindarkan oleh materialis, ini selalu
menuntun keorien matematik yang nantinya selalu di andalkan para filsafat
materialisme sepert KarlMax.
Manusiapun
hadir kebumi dikarenahkan epistemologinya. Manusia hadir di bumi sebab dari
epistemologi juga yang dimana ketika Nabi Adam pertama kali mengetahui buah
quldi itu, itu atas perintah dari epistemologinya Adam sampai bisa memakan buah
tersebut dan juga dorongan penasaran
sangat tinggi. Peristiwa itupun sebab dari proses Adam berfikir dan
memahami buah tersebut hingga Adam memakanya hingga mendapatkan konsekuensi
dari Maha Esa untuk di turunkan ke bumi.
Hukum-hukum
yang sudah dibuat oleh Maha Kuasa dilanggarnya karena atas perintah dari
epistemologi itu, makanya jangan heran manusia kenapa saja masih melanggar
kaidah-kaidah asas-asas ataupun hukum-hukum hingga saat ini, toh waktu manusia
masih di surga saja sudah berani melanggar apalagi di dunia.
Bukan
berarti manusia tidak bisa menghindar dari persoalan tersebut, tetapi sudah di
turunkan juga panduan bagi manusia ketika sedang merintis peradaban di dunia,
pedoman tersebut juga termuat larangan-larangan dan perintah otoritatif yaitu
“kitab suci” kitab/pedoman hidup manusia ialah sumber juga dari pengetahuan
untuk manusia di alam raya ini.
Epistemologi
yang terkodifikasi dalam kitab tersebut ialah sebab dari proses penurunan wahyu
dan firman, makanya epistemologi yang sudah teriteral dalam satu bundelan itu
adalah hasil dari wahyu, dan wahyu tidak diturunkan langsung denga teks atau
berbentuk huruf, tetapi wahyu di sampaikan kepada Nabi dan ada yang melaui
mimpi, fenomena alam, bisikan langsung dari malaikat dan Nabi menyampaikan
kepada para sahabatnya serta umatnya untuk dijadikan acuan hidup agar tidak
kacau kehidupan bagi umatnya yang mentaati apa yang pesan Maha Esa sampaikan
melaui Nabi kepada manusia.
Haruslah juga pintar mengetahui sesuatu itu apakah
bermanfaat bagi kita dan orang banyak juga bermakna positif, apa yang kita
punya dari lahir pergunakan dengan sebaik mungkin sehingga tidak menjadi suatu
pengulangan bagi Adam dan Hawa waktu masih menempati surga tetapi atas reaktif dari epistemology dan didorong oleh rasa penasaran maka dikenakan konsekuensi setelah itu.


Komentar
Posting Komentar